Review Bad Romance by Equita Millianda

33790697

Judul : Bad Romance

Penulis : Equita Millianda

Ilustrasi sampul : Margaretta Devi
Penyunting naskah : Moemoe dan Irawati Subrata
Penyunting ilustrasi : Kulniya Sally
Desain sampul dan isi : Kulniya Sally
Proofreader : Hetty Dimayanti
Layout sampul dan isi : Tim Redaksi dan Deni Sopian
Tahun Terbit : Cetakan I, November 2016
Penerbit : Pastel Books
ISBN : 978-602-0851-66-2
Tebal : 376 hlm
And the blurb..
Nathaniel Adriano Wirasetya adalah seorang cowok yang hobi banget bikin rusuh seantero sekolah. Mulai dari hal sepele kayak telat, bikin kerusuhan, sampai tawuran. Parah? Banget. Tapi statusnya sebagai cucu pemilik yayasan sekolah bikin semua peraturan menguap gitu aja kalau udah menyangkut nama Nathan. Katya jengah dengan kelakuan sok berkuasa dan sok gantengnya Nathan. Sampai akhirnya Katya berani melawan, tapi justru malah membuat Nathan semakin menjadi-jadi. Sampai pada suatu hari, hari dimana mereka memutuskan untuk membuat sebuah perjanjian paling laknat sepanjang masa. Dan semuanya berawal dari sana.

 

***

Bad Romance menceritakan Katya Elshadira dan Nathaniel Adriano Wirasetya. Awal kedekatan keduanya berawal dari Nathan yang kepergok sedang memalak  anak SMP, namun digagalkan oleh kedatangan Katya yang merasa jengah dengan tingkah sok berkuasa Nathan.

Sebelumnya tidak ada yang berani mengusik Nathan, hanya Katya. Hanya Katya yang berani melawannya. Hanya Katya gadis yang tidak tertarik padanya, saat semua siswi disekolah naksir padanya. Apalagi kalau bukan karena ketampanannya dan statusnya sebagai cucu pemilik yayasan. Hingga muncul sebuah ide untuk membuat sebuah perjanjian dengan Katya yang tidak bisa Katya tolak, walaupun setengah mati Katya ingin menolaknya.

Nathan dan Katya pun resmi berpacaran. Hubungan keduanya berjalan layaknya orang pacaran, Nathan yang menjemput dan mengantarkan Katya pulang sekolah, walaupun sikap Katya masih cuek, jutek dan ketus. Lama kelamaan Nathan merasa semakin penasaran dengan Katya. Dan berniat tidak akan meninggalkan Katya.

Katya enggak perlu tahu apa yang lagi gue lakukan. Enggak perlu sadar, kalau gue berusaha berubah buat dia. Biar orang-orang aja yang lihat kalau gue berubah buat Katya. -Nathan.

Ciee.. yakin Nath mau berubah demi Katya?

Disisi lain Katya yang merasa dirinya tidak tahu apa-apa tentang Nathan pun berusaha mengorek informasi tentang masa lalu Nathan dari Dio-kakak sepupu Nathan. Sampai akhirnya Nathan mengetahui alasan kenapa Katya menjauhinya.

“Lo bodoh, Kat, lo naif. Lo pikir lo bisa nyembuhin gue hanya dengan mengetahui masa lalu gue? Lo pikir lo bisa mencintai gue dengan benar cuma dengan mengetahui masa lalu gue?”

Akankah kisah keduanya berjalan mulus? Bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan yang bagaikan gelas yang sudah retak? Bagaimana Katya membangun pondasi yang kokoh untuk membentengi hatinya? Bagaimana cara Nathan mengubur kembali masa lalunya?

***

Novel Bad Romance ini hasil pinjam sama temannya adikku. Aku tertarik dengan review-review dan rating yang para host blogtour berikan saat memandu GA berhadiah novel Bad Romance ini. Yah, walaupun aku belum berhasil mendapatkannya, but dapat pinjaman enggak terlalu buruk kan? Haha. *tutupmuka

Baca dihalaman awal. Alamak! Kok bahasanya begini?! Banyak kata-kata baru yang menurutku enggak tercantum di KBBI atau mungkin itu kata-kata gaul? Contohnya seperti mabur, mabal. Aku harus membaca kelanjutan kalimat demi mengetahui arti dari kata tersebut. Maklum, aku ini orangnya jarang gaul jadi kurang update sama kata-kata gaul jaman sekarang.

Jadi, akupun memutuskan  untuk enggak melanjutkan baca. Karena apa? Ya itu, aku kehilangan selera baca. Beberapa hari kemudian aku paksain mataku buat terbiasa dengan gaya penulisnya. Dan woahh!! Lama kelamaan aku suka. Sampai-sampai aku enggak bisa tutup buku hanya untuk sekedar minum. Karena aku yakin Bad Romance ini akan menguras air mata. Hehe, iya aku tahu, aku orang yang menye.

Makin lama, karakter Nathan yang perusuh, nakal, tengil di Bad Romance ini benar-benar kerasa. Sedangkan Katya, karakter Katya ini easy going. Tapi yang paling aku suka dari sifat Katya ini adalah dia tetap berusaha kuat walaupun hati dan perasaannya hancur lebur. Chemistri diantara keduanya bikin ngiri. Soalnya banyak adegan makan gitu. Ada juga Agatha-kakak Katya- yang sangat menyayangi Katya. Dia adalah pelindung Katya. Sifata Agatha yang protektif itu bikin aku pingin banget punya kakak laki-laki. Lain lagi dengan Dio-kakak sepupu Nathan-yang diceritakan  Katya kegantengannya bak malaikat. Sosok Dio ini benar-benar membantu hubungan Katya dan Nathan. Ibaratnya Dio itu dokter cinta. (Mau dong satu yang kayak Dio) 😀

Alurnya diselingi dengan kisah masa lalu Nathan yang membuat ceritanya semakin menarik. Entah kenapa masa lalu itu selalu menarik untuk ditelusuri ya? Tapi kadang ya itu, ada beberapa orang yang memang tidak suka mengungkit masa lalu. Mungkin karena masa lalunya terlalu kelam. Jadi jangan hanya karena rasa ingin tahu, kita jadi egois untuk ingin tahu masa lalu orang lain.

Satu quotes yang paling aku suka.

Terkadang, seseorang yang paling hati-hati sekali pun bisa melakukan kesalahan yang menghancurkan dirinya sendiri. Bahkan, orang-orang disekitarnya. Dia melakukan hal itu mungkin secara tidak sengaja. Mungkin juga rencana semesta.

Secara keseluruhan, aku suka cerita Nathan dan Katya ini. Walaupun konflik benci jadi cinta sudah mainstream, tapi penulis mengemas cerita ini jadi penuh warna dan emosi sehingga terlihat berbeda. Terlepas dari adanya typo bagiku itu enggak masalah. Karena aku terlalu sibuk untuk ngusap-ngusap air mata. *hiks

Bagi kalian yang suka cerita cinta yang tidak hanya manis saja, melainkan ada bumbu penyedap yang membuatnya semakin lengkap, silakan baca Bad Romance ini. Good job buat Equita Millianda. Ditunggu karya selanjutnya.

4 bintang pantas untuk Bad Romance ini.

Star_rating_4_of_5

 

Review Maps by Radin Azkia

maps_3d-png

Judul: Maps
Penulis: Radin Azkia
Penyunting: Fitria D.
Penerbit: Loveable
Cetak: cetakan ke-4, 2016
Halaman: 372 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-6922-32-8

 

 

 

 

And the blurb..

“Gue bukannya mau lo jadi perawan tua,” ucap Gellar. Perlahan senyumnya berubah menjadi senyum iba pada dirinya sendiri. “Gue juga sebenarnya gak mau kesepian.” Lanjutnya. “Gue tau itu egois banget. Tapi gue gak punya siapa-siapa. Nanti kalo lo pacaran sama orang, terus gue gak bisa peluk-peluk lo lagi dong? Gue gak bisa tidur sama lo lagi, gue gak bisa ke rumah lo setiap hari, gue gak bisa godain lo lagi. Kalo gue main sama lo terus, nanti cowok lo marah. Terus lo lebih milih cowok lo daripada gue, terus gue sendirian main PS di kamar. Nanti gue bikin mie sendiri, bikin teh sendiri, bangun sendiri. Gue gak mau, Ta. Gue gak mau sendirian.”
Gita terdiam, merasa seperti dirinya di dorong dari jendela apartemen ke lantai dasar.

“Jangan marah lagi ya, Gitgit. Gue minta maaf.”

***

Maps menceritakan tentang sepasang sahabat, Gellar dan Gita. Rumah keduanya pun bersebelahan. Mereka lahir pada tanggal dan tahun yang sama, juga dirumah sakit yang sama. Sampai Vania-mamanya Gita bercerai dengan suaminya dan memutuskan untuk pindah ke apartemen. Hal yang serupa juga terjadi pada keluarga Gellar. Kedua orangtuanya bercerai dan sama-sama sudah menikah lagi. Namun Gellar tetap memilih menempati rumah lamanya dibanding harus tinggal dengan salah satunya.

Walaupun jarak rumah mereka tak lagi dekat, tidak lantas membuat mereka juga berjauhan. Mereka mempunyai kebiasaan rutin, yakni setiap malam Minggu akan menginap dirumah Gellar ataupun sebaliknya. Paginya Gita akan membuatkan teh panas sebagai pengganti sarapan.

“Kalo ada apa-apa, kan ada gue. Nggak usah sok-sok minta tolong cowok lain. Apalagi Dio…” -Gellar (hal 12)

Gellar yang seolah-olah menempatkan dirinya sebagai sayap pelindung bagi Gita, sangat tidak rela jika Gita meminta bantuan pada orang lain. Gellar paling sensitif jika Gita sudah menyebut-nyebut nama Dio. Dio adalah teman dekatnya semasa SMP. Apalagi sampai berhubungan dengan Dio, itu semua karena Gellar mengetahui kelakuan buruk Dio dimasa lalu. Namun bukankah setiap orang akan mengalami perubahan? Hidup itu terus berjalan, tidak selamanya yang buruk akan terus menjadi buruk. Seharusnya Gellar tidak mengungkit-ungkit masa lalu orang lain, sehingga dia terus-terusan menganggap orang lain buruk.

“Ya jelas lah, gue kan suka sama lo. Pasti apa yang lo lakuin ke gue selalu gue inget.” -Dio (hal 88)

Perlakuan manis dan perhatian kecil dari Dio kadang membuat Gita merasa tersipu. Kadang terbersit dibenaknya untuk menjalin hubungan dengan Dio. Namun sekali lagi, Gita masih belum yakin dengan perasaannya.

Disisi lain datang sosok wanita yang dicintai Gellar dimasa lalunya. Bunga. Dia bukan tokoh antagonis yang ingin merusak persahabatan antara Gellar dan Gita. Bunga murni datang sebagai siswi baru. Dan Gellar merasakan euforia yang dulu bangkit lagi dalam dirinya.

Awalnya semua berjalan normal-normal saja. Sampai suatu hal tak terduga membuat keduanya harus berpisah.

Ketika salah satu dari mereka sudah memiliki pasangan, apakah persahabatan mereka akan tetap berjalan seperti biasa? Ataukah salah satu dari mereka akan menjauh? Apakah kisah mereka akan berakhir Happy Ending seperti kebanyakan kisah cinta? Semua jawabannya ada diakhir halaman.

So, baca sampai terakhir ya.

***

Aku sebagai pembaca aktif dunia wattpad (ceilah) sudah sering sekali membaca karya-karya Radin Azkia.

Novel ini mengisahkan tentang friendzone. Namun bukankah sudah sering dikatakan, bahwa tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan, kalaupun ada, mungkin itu hanya beberapa di Indonesia.

Sebelum lihat label dibelakang cover, tadinya aku sempat mengira ini adalah novel dewasa. Maklum, blurb-nya agak begitu. Hehe. Tapi setelah ditelusuri ternyata bukan. *elusdada

Maps menggunakan sudut pandang orang ketiga yang membuat ceritanya terpampang dengan rapi dan enggak bikin bingung.

Menurutku alurnya agak lambat, sehingga konfliknya baru terjadi menjelang bab-bab terakhir. Namun dialog-dialog antara Gita dan Gellar cukup menghibur dan mengalir apa adanya, seperti aku ikut terlibat dalam percakapan.Aku suka dengan jokes yang dilontarkan Gellar, membuat ceritanya hidup dan khas banget anak SMA. *jadikangenSMA

Beberapa kutemui typo yang masih wajar dan manusiawi. Yang masih menjadi misteri bagiku adalah apa kaitannya judul dengan isi ceritanya? Mungkinkah MAP yang ditemukan Gita dikamar Ibunya? Entah aku yang kurang fokus atau ada maksud lain dari judul itu. Yang pasti aku enggak menemukan maksud dari judul tersebut.

Ending-nya yang tak terduga benar-benar bikin melongo. But, aku suka banget.

Ada satu quote yang paling aku suka.

“Kalo orang yang lo butuhin nggak ada, lo bisa hubungin gue kok.”

Coba tebak, itu kata-katanya siapa? So sweet banget, seolah-olah dia itu siap menjadi cadangan. Hmm..

Overall, aku suka cerita manis khas SMA ini. Bagi kalian yang ingin novel dengan latar belakang SMA dan dialog yang khas anak gaul, wajib baca ini. Apalagi yang terjebak friendzone, tidak semuanya berakhir menyedihkan kok.

3 bintang cukup untuk cerita manis Radin Azkia. Ditunggu karya selanjutnya.

star-rating-3

 

Chanyeol dalam So I Married The Anti-Fan

42c926521f305a6011f5f887a3317b1c

Park Chanyeol berperan sebagai Hu Joon dalam film So I Married The Anti-fan. Novel ini merupakan jembatan pertama saya dalam mengenal penerbit Haru. Maka dari itu novel ini sangat berkesan bagi saya. Bahkan dalam setiap lembarnya. Karena saya terlalu bersyukur bisa diberikan kesempatan mendapatkan novel ini dengan tanpa biaya alias gratis.

Disini saya memilih Hu Joon sebagai tokoh yang saya sukai. Hu Joon diceritakan sebagai artis papan atas di Korea yang digandrungi oleh para remaja wanita. Tak salah, karena Hu Joon memang memiliki wajah yang tampan namun terkesan dingin, cocok sekali dengan wajah rupawan milik Park Chanyeol.

Hu Joon yang bersifat keras kepala, ketika ibunya melarangnya untuk menjadi seorang artis. Ia nekad meninggalkan Alaska dan Ibunya demi mengejar impiannya. Tapi sekeras apapun sifat, suatu saat pasti akan melunak.

Saya dibuat tersenyum-senyum ketika menikmati setiap lembar novel ini. Yang pastinya pada karakter Hu Joon yang sok jual mahal. Sebenarnya bukan jual mahal, dia memang dituntut untuk jadi orang lain ketika menjadi artis. Yah, memang begitu kan pada kenyataannya? Kebanyakan memang dituntut untuk perfeksionis dalam segala hal. Tidak boleh terlihat kekurangan sedikitpun. Sampai-sampai saking tenarnya banyak artis yang lupa darimana dirinya berasal.

Karakter Hu Joon yang perhatian namun tertutupi dengan sikap dinginnya. Saya suka saat Hu Joon bersikap apa adanya-menjadi dirinya sendiri-saat hanya bersama Geun Yong. Saat mereka menikmati jajanan pinggir jalan dan beberapa kaleng minuman bersoda. Sampai pada akhirnya Hu Joon sadar, kepopularitasannya memang membuat dirinya puas, namun tidak pada hatinya. Karena sebagian hatinya tertinggal di Alaska.

Overally, saya suka dengan tokoh Hu Joon.

Saat kau memutuskan membenci seseorang, maka kau harus bersiap jika suatu hari kenyataannya akan berubah 180 derajat. Bisa saja orang yang sangat kau benci itu adalah orang yang pada akhirnya kau cintai, bahkan mungkin saja kau akan berkorban sangat banyak untuk kebaikannya. Karena pada dasarnya, manusia tak akan tahu takdir apa yang harus diterimanya.

c229663887ca9f7e94821e91b8983c24

Sampai jumpa 🙂