Review Maps by Radin Azkia

maps_3d-png

Judul: Maps
Penulis: Radin Azkia
Penyunting: Fitria D.
Penerbit: Loveable
Cetak: cetakan ke-4, 2016
Halaman: 372 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-6922-32-8

 

 

 

 

And the blurb..

“Gue bukannya mau lo jadi perawan tua,” ucap Gellar. Perlahan senyumnya berubah menjadi senyum iba pada dirinya sendiri. “Gue juga sebenarnya gak mau kesepian.” Lanjutnya. “Gue tau itu egois banget. Tapi gue gak punya siapa-siapa. Nanti kalo lo pacaran sama orang, terus gue gak bisa peluk-peluk lo lagi dong? Gue gak bisa tidur sama lo lagi, gue gak bisa ke rumah lo setiap hari, gue gak bisa godain lo lagi. Kalo gue main sama lo terus, nanti cowok lo marah. Terus lo lebih milih cowok lo daripada gue, terus gue sendirian main PS di kamar. Nanti gue bikin mie sendiri, bikin teh sendiri, bangun sendiri. Gue gak mau, Ta. Gue gak mau sendirian.”
Gita terdiam, merasa seperti dirinya di dorong dari jendela apartemen ke lantai dasar.

“Jangan marah lagi ya, Gitgit. Gue minta maaf.”

***

Maps menceritakan tentang sepasang sahabat, Gellar dan Gita. Rumah keduanya pun bersebelahan. Mereka lahir pada tanggal dan tahun yang sama, juga dirumah sakit yang sama. Sampai Vania-mamanya Gita bercerai dengan suaminya dan memutuskan untuk pindah ke apartemen. Hal yang serupa juga terjadi pada keluarga Gellar. Kedua orangtuanya bercerai dan sama-sama sudah menikah lagi. Namun Gellar tetap memilih menempati rumah lamanya dibanding harus tinggal dengan salah satunya.

Walaupun jarak rumah mereka tak lagi dekat, tidak lantas membuat mereka juga berjauhan. Mereka mempunyai kebiasaan rutin, yakni setiap malam Minggu akan menginap dirumah Gellar ataupun sebaliknya. Paginya Gita akan membuatkan teh panas sebagai pengganti sarapan.

“Kalo ada apa-apa, kan ada gue. Nggak usah sok-sok minta tolong cowok lain. Apalagi Dio…” -Gellar (hal 12)

Gellar yang seolah-olah menempatkan dirinya sebagai sayap pelindung bagi Gita, sangat tidak rela jika Gita meminta bantuan pada orang lain. Gellar paling sensitif jika Gita sudah menyebut-nyebut nama Dio. Dio adalah teman dekatnya semasa SMP. Apalagi sampai berhubungan dengan Dio, itu semua karena Gellar mengetahui kelakuan buruk Dio dimasa lalu. Namun bukankah setiap orang akan mengalami perubahan? Hidup itu terus berjalan, tidak selamanya yang buruk akan terus menjadi buruk. Seharusnya Gellar tidak mengungkit-ungkit masa lalu orang lain, sehingga dia terus-terusan menganggap orang lain buruk.

“Ya jelas lah, gue kan suka sama lo. Pasti apa yang lo lakuin ke gue selalu gue inget.” -Dio (hal 88)

Perlakuan manis dan perhatian kecil dari Dio kadang membuat Gita merasa tersipu. Kadang terbersit dibenaknya untuk menjalin hubungan dengan Dio. Namun sekali lagi, Gita masih belum yakin dengan perasaannya.

Disisi lain datang sosok wanita yang dicintai Gellar dimasa lalunya. Bunga. Dia bukan tokoh antagonis yang ingin merusak persahabatan antara Gellar dan Gita. Bunga murni datang sebagai siswi baru. Dan Gellar merasakan euforia yang dulu bangkit lagi dalam dirinya.

Awalnya semua berjalan normal-normal saja. Sampai suatu hal tak terduga membuat keduanya harus berpisah.

Ketika salah satu dari mereka sudah memiliki pasangan, apakah persahabatan mereka akan tetap berjalan seperti biasa? Ataukah salah satu dari mereka akan menjauh? Apakah kisah mereka akan berakhir Happy Ending seperti kebanyakan kisah cinta? Semua jawabannya ada diakhir halaman.

So, baca sampai terakhir ya.

***

Aku sebagai pembaca aktif dunia wattpad (ceilah) sudah sering sekali membaca karya-karya Radin Azkia.

Novel ini mengisahkan tentang friendzone. Namun bukankah sudah sering dikatakan, bahwa tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan, kalaupun ada, mungkin itu hanya beberapa di Indonesia.

Sebelum lihat label dibelakang cover, tadinya aku sempat mengira ini adalah novel dewasa. Maklum, blurb-nya agak begitu. Hehe. Tapi setelah ditelusuri ternyata bukan. *elusdada

Maps menggunakan sudut pandang orang ketiga yang membuat ceritanya terpampang dengan rapi dan enggak bikin bingung.

Menurutku alurnya agak lambat, sehingga konfliknya baru terjadi menjelang bab-bab terakhir. Namun dialog-dialog antara Gita dan Gellar cukup menghibur dan mengalir apa adanya, seperti aku ikut terlibat dalam percakapan.Aku suka dengan jokes yang dilontarkan Gellar, membuat ceritanya hidup dan khas banget anak SMA. *jadikangenSMA

Beberapa kutemui typo yang masih wajar dan manusiawi. Yang masih menjadi misteri bagiku adalah apa kaitannya judul dengan isi ceritanya? Mungkinkah MAP yang ditemukan Gita dikamar Ibunya? Entah aku yang kurang fokus atau ada maksud lain dari judul itu. Yang pasti aku enggak menemukan maksud dari judul tersebut.

Ending-nya yang tak terduga benar-benar bikin melongo. But, aku suka banget.

Ada satu quote yang paling aku suka.

“Kalo orang yang lo butuhin nggak ada, lo bisa hubungin gue kok.”

Coba tebak, itu kata-katanya siapa? So sweet banget, seolah-olah dia itu siap menjadi cadangan. Hmm..

Overall, aku suka cerita manis khas SMA ini. Bagi kalian yang ingin novel dengan latar belakang SMA dan dialog yang khas anak gaul, wajib baca ini. Apalagi yang terjebak friendzone, tidak semuanya berakhir menyedihkan kok.

3 bintang cukup untuk cerita manis Radin Azkia. Ditunggu karya selanjutnya.

star-rating-3

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s