Menjadi Perempuan Indonesia Harus Kreatif

294f8f8c-0db4-4513-af2b-31019e35a427Bangga Menjadi Perempuan Indonesia

Jika ditanya apakah kalian bangga menjadi perempuan Indonesia? Saya akan menjawab, tentu saja bangga. Kenapa tidak? Indonesia sudah merdeka.  Meski perjuangan merebut kemerdekaan harus melalui pertumpahan darah, penyiksaan, perbudakan, hingga merenggut banyak nyawa. Semoga para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, diberikan tempat terbaik oleh Tuhan. Mengheningkan cipta mulai. *hening

Saya bangga menjadi perempuan Indonesia, meski kesetaraan gender belum benar-benar berlaku di negara ini. Tapi itu semua tidak menampik bahwa negara Indonesia pernah di pimpin oleh seorang Perempuan, yakni Ibu Megawati Soekarno Putri. Itu semua sudah cukup membuktikan bahwa perempuan layak menduduki jabatan tertinggi di negeri ini.

President_Megawati_Sukarnoputri_-_Indonesia

https://www.google.com/search?q=foto+megawati+soekarno+putri&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi8kLC26tPTAhWCwbwKHdrzCfgQ_AUICigB&biw=1366&bih=657#imgrc=R_uulewtJmMiIM:

 

backgrounddaun

Sosok Perempuan Hebat

Bagi saya R.A Kartini adalah sosok perempuan hebat. Beliau adalah pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

sekolah kartini

https://www.google.com/search?q=sekolah+yang+didirikan+kartini&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj82OT_ytbTAhVLvI8KHe1mBsEQ_AUICigB&biw=1366&bih=657#imgrc=0n-ValqyEsgObM:

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju.

00000

https://www.google.com/search?client=firefox-b&biw=1366&bih=657&tbm=isch&sa=1&q=ra+kartini&oq=ra+kartini&gs_l=img.3…707017.711684.0.711946.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0….0…1.1.64.img..0.0.0.Q9k-f3DUFJI#imgdii=c5HRq5WXpO-SQM:&imgrc=N7_8lvbdta2JWM:

0000000000

Menjadi Perempuan Indonesia yang Kreatif

Disini saya akan berbagi pengalaman awal mula saya memilih profesi penjahit.

3 tahun lalu saya masih tercatat menjadi siswi kelas 3 di sebuah SMA swasta di kota Metro. Di saat semua teman saya sibuk dengan pendaftaran SNMPTN, saya hanya sibuk menanyakan dimana mereka akan mendaftar, tanpa saya ikut mendaftar.

Saya telah melewatkan SNMPTN, satu-satunya kesempatan seumur hidup yang tidak mungkin akan saya jumpai di masa depan. Padahal saya merasa nilai-nilai rapor saya tidak cukup buruk untuk mendaftar SNMPTN. Kedua kalinya saya melewatkan kesempatan mengikuti ujian SBMPTN. Bukan. Bukan karena saya tidak berminat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi ada perbedaan pendapat antara saya dan Ayah. Dimana beliau-yang seorang engineer-menginginkan saya untuk mengikuti jejaknya. Saya diminta untuk mengambil IT. Dengan serta merta saya menolak permintaan tersebut, sudah cukup 2 tahun bagi saya terjebak dalam kelas yang seperti penjara-bagi saya. Saya tidak mau lagi jika harus merasakannya di 4 tahun ke depan. Saya tidak ingin merasa terkekang di masa perkuliahan, apalagi mengambil jurusan yang sama sekali bukan minat saya. Sedangkan saya sendiri memiliki ketertarikan untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Beliau tertawa meremehkan mendengarkan penuturan saya yang ingin mengambil Sastra Indonesia. “Mau kerja apa lulusan Sastra Indonesia? Mendingan IT, peluang kerjanya besar.” Saya sempat berpikir bahwa pemikiran beliau amat kolot-namun karena beliau Ayah saya, saya tetap menghormati pendapatnya- justru saya mencari jurusan yang jarang diminati. Sehingga nantinya saya lebih bisa mengeksplor minat saya pada jurusan tersebut. Saya hanya takut ketika saya mengikuti permintaan beliau, saya hanya merasa terpaksa lantas tak bisa belajar dengan semaksimal mungkin. Semboyan yang saya terapkan, “Kuliah bukan untuk coba-coba.”

Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya setelah lulus, saya memutuskan untuk mondok di sebuah pondok pesantren di Jakarta Timur. Saya ingin memfokuskan diri ini pada Tuhan yang telah menciptakan saya. Sekaligus obat untuk menetralisir perasaan gundah, akibat belum melanjutkan kuliah.

Disini saya harus belajar mandiri. Tapi kabar baiknya, saya menemukan 3 orang yang menjadi  saya hingga sekarang. Ada Lulu, si perempuan jangkung perkasa dengan suara bariton. Tampangnya memang sangar, tapi dia masih perempuan kok! By the way, sekarang perempuan tomboy ini sudah menikah, bahkan sedang mengandung anak pertamanya. Wah! So proud of you 🙂

15894868_726426777516444_5702579492009289000_n

Di ambil dari akun facebook pribadi.

Lalu ada Ajeng. Umurnya berada di bawah saya, tapi badannya WOW!

17342905_1841919146070873_3504044674833863655_n

Di ambil dari akun facebook pribadi.

Yang terakhir ada Mbak Ayu. Mbak Ayu ini sudah seperti ibu bagi saya saat di pondok. Orangnya baik, royal, friendly. Yang paling tidak bisa dilupakan darinya adalah dia perempuan paling jahil se-asrama.

15977458_1814812122122243_1131182928726285815_n

Di ambil dari akun facebook pribadi.

Mereka bertiga adalah perempuan hebat bagiku. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kami berempat dalam ikatan yang erat.

Singkat cerita, setelah selesai beberapa bulan menimba ilmu agama di pondok, saya pun memutuskan untuk kembali ke habitat saya, Lampung. Saya kembali di landa kegundahan. Hingga suatu hari ada acara televisi yang membahas tentang fashion. Saya berpikir, bagaimana caranya supaya bisa memiliki ketrampilan yang bisa berguna bagi masyarakat luas. Akhirnya, saya di ajak ke LKP Ratna Karya. Dan mendaftar kursus menjahit. Awalnya saya merasa canggung, dan sulit untuk mempelajari gerak mesin yang terlalu cepat. Ataupun minyak mesin yang melumuri tangan.

Beberapa hari, kaki sudah mulai lincah untuk bermain dengan mesin, begitu pula jari yang sudah jarang tertusuk jarum. Masuk ke tahap materi.

0000000

https://www.google.com/search?q=pOLA+BAJU&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwic1M68xNbTAhWCpY8KHdo_Db0Q_AUICigB&biw=1366&bih=657#imgrc=DNs1XG2M6AC9CM:

Saya di ajarkan berbagai macam membuat pola baju. Mulai dari mengukur, menghitung, hingga merancang bahan. Semuanya di pelajari di sini. Saya orangnya lebih senang praktek. Alhasil baru sebulan kursus, volume baju di lemari meningkat drastis.

Dan berikut adalah beberapa baju hasil jahitan.

_gkpAHa_

Di ambil dari koleksi pribadi.

Dan saat memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April pun sekolah mengadakan festival yang mengharuskan murid perempuan memakai kebaya. Imbasnya saya tidak bisa menolak rezeki yang datang. Di bawah ini adalah beberapa baju kebaya yang saya jahit sesuai permintaan pelanggan.

AU-Y_i27

Di ambil dari koleksi pribadi.

Rasa syukur tak hentinya saya ucapkan ketika menerima uang dari hasil jerih payah sendiri. Karena yang selama ini saya lakukan adalah menadah pada orangtua. Rasa sadar pun menghantui diri ini yang dulu suka berfoya-foya tanpa tahu sulitnya mendapat uang.

Saya berharap lebih banyak lagi perempuan yang sadar bahwa kreatifitas itu penting. Kodratnya perempuan memang di nafkahi oleh suami. Tapi bagi yang belum menikah, apa masih tega meminta pada orangtua? Sedangkan orangtua sudah semakin renta. Apa salahnya ketika kita memiliki kreativitas yang bisa menghasilkan uang? Tentu suatu kepuasan tersendiri.

Saya bercita-cita suatu saat nanti-beberapa tahun lagi, saya ingin membuka butik yang memajang hasil baju jahitan saya. Tentunya saya akan membutuhkan beberapa asisten untuk membantu saya, dan di situlah saya ingin berbagi ilmu dengan mereka yang benar-benar ingin jadi perempun kreatif. Ah, alangkah senangnya jadi kreatif. 🙂

Postingan ini di ikut sertakan dalam kompetisi menulis ‘Menjadi Perempuan Indonesia’ yang di adakan Tribun News.

Cek syarat dan ketentuan di https://www.facebook.com/notes/tribunnewscom/kompetisi-menulis-menjadi-perempuan-indonesia/1394475240608733/

Beautiful Fantasy Worlds HD Wallpaper (9)c229663887ca9f7e94821e91b8983c24

 

 

Advertisements